Infus (Terapi Cairan Intravena)
Pemberian cairan, elektrolit, atau obat langsung melalui pembuluh darah
Prosedur Medis
Pemberian cairan, elektrolit, atau obat langsung melalui pembuluh darah
- Kontraindikasi relatif: Flebitis (radang vena) di lokasi pemasangan. Trombosis vena di ekstremitas yang akan dipasang. Selulitis atau infeksi kulit di area pemasangan. Luka bakar di area pemasangan. AV fistula atau AV shunt di lengan (pada pasien hemodialisis) - jangan pasang di lengan tersebut. Mastektomi atau limfadenektomi aksila - hindari lengan di sisi operasi. Trauma atau fraktur ekstremitas - hindari ekstremitas tersebut.
- Kondisi yang perlu perhatian khusus: Gagal jantung kongestif - kelebihan cairan bisa memperburuk. Edema paru - hati-hati pemberian cairan. Gagal ginjal - monitor ketat balance cairan. Gangguan pembekuan darah atau trombositopenia - risiko perdarahan/hematoma. Pasien dengan vena yang sulit (obesitas, pengguna NAPZA IV kronis, kemoterapi berulang).
Cuci tangan dan pakai sarung tangan
Pasang tourniquet (pembendung) 10-15 cm di atas area yang akan ditusuk
Minta pasien mengepal tangan untuk membuat vena lebih jelas
Pilih vena yang teraba baik, lurus, tidak bercabang
Desinfeksi area dengan alkohol swab (gerakan melingkar dari dalam ke luar)
Tunggu alkohol mengering (jangan ditiup atau dilap)
Pegang kulit di bawah vena dengan tangan non-dominan untuk menstabilkan vena
Tusukkan kateter IV dengan sudut 15-30 derajat, bevel (lubang jarum) menghadap ke atas
Saat terlihat darah di chamber (flashback), turunkan sudut jarum hampir sejajar kulit
Dorong kateter sambil menarik jarum stylet perlahan
Setelah kateter masuk penuh, lepas tourniquet
Tekan vena di ujung kateter untuk mencegah darah keluar
Cabut jarum stylet sepenuhnya dan buang ke sharps container
Hubungkan kateter dengan set infus
Buka roller clamp, alirkan cairan, pastikan lancar tanpa bocor atau bengkak
Fiksasi kateter dengan plester/tape transparan
Buat loop pada selang dan fiksasi dengan plester untuk mencegah tercabut
Tulis label di plester (tanggal, jam pemasangan, ukuran kateter, nama petugas)
Atur tetes infus sesuai kebutuhan (makro: 20 tpm, mikro: 60 tpm)
Kecepatan tetes = (volume cairan/waktu(jam) x faktor tetes)/60 menit
Monitor respons pasien
Catat di rekam medis
- Hematoma: Memar di area tusukan karena darah keluar ke jaringan. Penyebab: tusukan menembus 2 sisi vena, tourniquet tidak dilepas sebelum cabut jarum. Penanganan: kompres dingin 15-20 menit, elevasi lengan. Biasanya hilang 3-7 hari.
- Infiltrasi/ekstravasasi: Cairan bocor ke jaringan sekitar vena (kateter tidak di dalam vena atau vena bocor). Tanda: bengkak, dingin, pucat, nyeri di area insersi, tetesan melambat atau stop. Penanganan: STOP infus, cabut kateter, kompres dingin (untuk cairan non-vesikan) atau hangat (untuk vesikan), elevasi lengan, pasang ulang di tempat lain.
- Flebitis: Peradangan vena. Tanda: nyeri, kemerahan mengikuti jalur vena, vena teraba keras seperti tali, hangat. Penyebab: iritasi mekanik (kateter terlalu besar, gerakan berlebihan), iritasi kimia (obat/cairan yang mengiritasi), infeksi. Penanganan: cabut kateter, kompres hangat 3-4x/hari 15-20 menit, elevasi lengan, berikan NSAID jika perlu, pasang ulang di tempat lain.
- Tromboflebitis: Flebitis dengan trombus (gumpalan darah) di vena. Gejala lebih berat dari flebitis biasa. Penanganan: cabut kateter, kompres hangat, elevasi, rujuk ke dokter untuk antikoagulan jika perlu.
- Infeksi lokal: Di area insersi - kemerahan, bengkak, panas, keluar nanah. Penanganan: cabut kateter, kultur ujung kateter dan cairan, antibiotik topikal/sistemik.
- Sepsis (infeksi sistemik): Sangat jarang tapi serius. Bakteri dari kateter masuk ke aliran darah. Tanda: demam tinggi, menggigil, tekanan darah turun, kesadaran menurun. Penanganan: cabut kateter, kultur darah, antibiotik IV broad spectrum, rawat inap.
- Emboli udara: Sangat jarang. Udara masuk ke pembuluh darah. Bisa terjadi jika: selang tidak di-priming dengan baik, sambungan longgar, mengganti botol infus saat belum habis. Gejala: sesak napas mendadak, nyeri dada, batuk, penurunan kesadaran. Pencegahan: selalu keluarkan udara dari selang sebelum pasang, cek sambungan rapat, ganti botol sebelum habis.
- Overload cairan: Terlalu banyak cairan masuk, jantung tidak mampu memompa. Tanda: sesak napas, batuk, ronki paru (suara napas basah), edema, peningkatan berat badan cepat. Risiko tinggi pada: gagal jantung, gagal ginjal, lansia, anak kecil. Pencegahan: hitung kebutuhan cairan dengan tepat, monitor ketat, atur kecepatan dengan benar. Penanganan: kurangi/stop infus, posisi semi fowler, oksigen, diuretik, monitor.
- Reaksi alergi: Terhadap cairan, obat, atau plester. Tanda: gatal, kemerahan, bengkak, urtikaria (biduran), sesak (jika berat). Penanganan: stop infus, beri antihistamin, kortikosteroid, epinefrin jika anafilaksis berat.
- Nyeri/rasa tidak nyaman: Umum terutama saat pertama kali dipasang atau saat cairan dingin masuk. Penanganan: kompres hangat, atur posisi lengan, kurangi kecepatan sementara.
- Kateter tercabut tidak sengaja: Terutama pada anak atau pasien gelisah. Pencegahan: fiksasi dengan baik, awasi pasien, gunakan arm board jika perlu.
- Bengkak besar di area insersi atau lengan membengkak
- Nyeri hebat di area insersi
- Kemerahan yang meluas atau garis merah di kulit menuju jantung
- Demam, menggigil
- Sesak napas, batuk, nyeri dada
- Pusing, lemas, kesadaran menurun
- Infus tidak mau menetes atau sangat lambat
- Kateter tercabut atau longgar
- Cairan/obat habis tapi belum diganti
- Pilih vena dan ukuran kateter yang tepat
- Teknik aseptik ketat (steril)
- Fiksasi kateter dengan baik
- Jangan pasang terlalu lama di satu tempat (max 72-96 jam)
- Monitor ketat area insersi dan respons pasien
- Edukasi pasien/keluarga tanda bahaya
- Hitung kebutuhan cairan dengan tepat
- Pastikan selang tidak tertekuk atau terjepit
- Ganti set infus dan plester sesuai jadwal